Dari Lokalisasi ke Tempat Mengaji, Wajah Baru Saritem Bandung Bikin Publik Terkejut

 

JTP - Bandung — Nama Saritem selama ini identik dengan kawasan prostitusi legendaris di Kota Bandung. Namun siapa sangka, di balik citra kelam tersebut kini tumbuh aktivitas pendidikan agama Islam yang aktif dan menjadi tempat belajar warga sekitar.

Di tengah kawasan yang dulu dikenal sebagai lokalisasi terbesar di Jawa Barat itu, berdiri Pondok Pesantren Darut Taubah yang telah menjalankan dakwah dan pendidikan agama selama puluhan tahun. Kehadiran pesantren tersebut menjadi simbol perubahan sosial di lingkungan Saritem.

Pesantren yang berada di kawasan Jalan Kebon Tangkil, Kelurahan Kebon Jeruk, Kecamatan Andir, Kota Bandung itu rutin menggelar kegiatan mengaji, pembinaan akhlak, hingga pendidikan Islam bagi anak-anak dan masyarakat sekitar. Tidak sedikit warga yang mengikuti pengajian rutin meski tinggal di lingkungan eks lokalisasi.

Pengurus pesantren menyebut hubungan antara santri dan warga berjalan harmonis. Bahkan, masyarakat sekitar sering melibatkan pihak pesantren dalam kegiatan keagamaan maupun sosial kemasyarakatan.

Selain santri mukim, pesantren juga menerima santri nonmukim atau “santri kalong” dari lingkungan sekitar. Sebagian orang tua disebut sengaja menitipkan anak mereka agar mendapat pendidikan agama dan tidak terpengaruh lingkungan negatif di kawasan tersebut.

Saritem sendiri diketahui sudah ada sejak zaman kolonial Belanda sekitar tahun 1838 dan lama dikenal sebagai pusat prostitusi di Bandung. Pemerintah Kota Bandung resmi menutup lokalisasi tersebut pada tahun 2007, meski aktivitas prostitusi terselubung disebut masih kerap ditemukan.

Keberadaan pesantren di tengah eks lokalisasi itu kini menjadi sorotan publik karena dianggap mampu menghadirkan perubahan positif di kawasan Saritem. Tidak lagi hanya dikenal sebagai tempat prostitusi, wilayah tersebut perlahan mulai dikenal sebagai lokasi syiar Islam dan pembinaan generasi muda.

Lebih baru Lebih lama