Gebrakan Dedi Mulyadi Satukan Gedung Sate–Gasibu, Tuai Pro-Kontra di Tengah Warga

 

JTP - Bandung — Gagasan ambisius dari Dedi Mulyadi untuk menyatukan kawasan Gedung Sate dan Lapangan Gasibu menjadi satu ruang publik terpadu memicu perdebatan luas. Rencana tersebut dinilai sebagai langkah berani, namun juga mengundang kritik dari berbagai kalangan.

Dalam konsep yang diusung, kawasan Gedung Sate dan Gasibu akan ditata ulang agar lebih ramah pejalan kaki, mengurangi dominasi kendaraan bermotor, serta menghadirkan ruang terbuka hijau yang lebih tertib dan estetis. Dedi menyebut langkah ini sebagai upaya menciptakan ikon baru Kota Bandung yang lebih modern dan nyaman bagi masyarakat.

“Kawasan ini punya potensi besar sebagai pusat aktivitas publik. Penataan ini bukan hanya soal keindahan, tapi juga kenyamanan dan fungsi,” ujar Dedi dalam pernyataannya.

Namun, rencana tersebut tidak diterima tanpa kritik. Sejumlah pengamat tata kota menilai kebijakan pembatasan kendaraan di sekitar kawasan berisiko memicu kemacetan baru di ruas jalan lain. Kekhawatiran juga datang dari warga yang menilai akses menuju area tersebut bisa menjadi lebih sulit.

Di sisi lain, pelaku usaha dan pedagang di sekitar Gasibu mengaku cemas. Mereka khawatir penataan ulang tanpa solusi yang matang justru akan mengurangi jumlah pengunjung dan berdampak langsung pada pendapatan harian.

“Kalau akses dibatasi, pembeli bisa berkurang. Kami butuh kejelasan,” ungkap salah satu pedagang.

Meski begitu, tidak sedikit warga yang mendukung rencana ini. Mereka menilai integrasi kawasan Gedung Sate–Gasibu dapat meningkatkan kualitas ruang publik di Bandung, menjadikannya lebih tertib, bersih, dan layak sebagai destinasi wisata kota.

Hingga kini, wacana tersebut masih dalam tahap pembahasan dan kajian lebih lanjut. Sejumlah pihak mendorong agar proses perencanaan melibatkan masyarakat luas, sehingga kebijakan yang diambil tidak hanya visioner, tetapi juga realistis dan berpihak pada semua lapisan.

Lebih baru Lebih lama