Piala Dunia 2026 di AS Sepi Penonton Asing, Hotel dan Maskapai Gagal Ketiban Durian Runtuh

 

WASHINGTON, D.C. – Gelaran Piala Dunia FIFA 2026 yang berlangsung di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko sejatinya diproyeksikan menjadi mesin penggerak ekonomi bagi sektor pariwisata, perhotelan, dan transportasi udara. Namun, di tengah berlangsungnya turnamen terbesar sepak bola dunia tersebut, sejumlah pelaku industri di Amerika Serikat justru mengaku belum merasakan lonjakan bisnis yang signifikan seperti yang sebelumnya diperkirakan.

Banyak hotel, maskapai penerbangan, hingga pelaku usaha pariwisata yang berharap mendapat keuntungan besar dari kedatangan jutaan suporter internasional. Namun realitas di lapangan menunjukkan tingkat kunjungan wisatawan asing ke sejumlah kota tuan rumah masih berada di bawah ekspektasi.

Sejumlah laporan media internasional menyebutkan tingkat okupansi hotel di beberapa kota penyelenggara pertandingan belum mengalami peningkatan drastis. Bahkan, beberapa hotel yang sebelumnya menaikkan tarif kamar dengan harapan tingginya permintaan terpaksa menurunkan harga untuk menarik tamu.

Kondisi serupa juga dirasakan oleh maskapai penerbangan. Meski terjadi peningkatan jumlah penumpang pada rute tertentu yang berkaitan dengan lokasi pertandingan, lonjakan tersebut tidak sebesar yang diprediksi sebelumnya. Beberapa maskapai bahkan masih menawarkan promosi dan diskon tiket guna menjaga tingkat keterisian kursi pesawat.

Pengamat industri pariwisata menilai ada beberapa faktor yang menyebabkan minimnya lonjakan wisatawan internasional selama Piala Dunia 2026. Salah satunya adalah tingginya biaya perjalanan ke Amerika Serikat, mulai dari harga tiket pesawat, akomodasi, hingga biaya hidup yang relatif mahal dibandingkan negara tuan rumah Piala Dunia sebelumnya.

Selain faktor biaya, kebijakan imigrasi dan proses pengurusan visa juga disebut menjadi pertimbangan sebagian calon wisatawan. Sejumlah penggemar sepak bola dari berbagai negara memilih menonton pertandingan melalui siaran televisi atau platform digital karena biaya perjalanan yang dinilai terlalu tinggi.

Di sisi lain, penyelenggaraan pertandingan yang tersebar di berbagai kota dan negara juga membuat biaya perjalanan antar-lokasi menjadi lebih mahal bagi para suporter yang ingin mengikuti tim favorit mereka sepanjang turnamen.

Meski demikian, para ekonom menilai dampak ekonomi Piala Dunia tidak hanya dapat diukur dari tingkat hunian hotel atau penjualan tiket pesawat selama fase grup. Manfaat ekonomi jangka panjang seperti promosi destinasi wisata, peningkatan investasi, dan pembangunan infrastruktur diperkirakan masih akan dirasakan oleh kota-kota tuan rumah setelah turnamen berakhir.

FIFA sebelumnya memperkirakan Piala Dunia 2026 akan menjadi salah satu turnamen terbesar dalam sejarah dengan jumlah penonton dan pendapatan yang memecahkan rekor. Turnamen ini juga menjadi edisi pertama yang diikuti oleh 48 negara peserta.

Pelaku industri pariwisata masih berharap minat wisatawan akan meningkat memasuki babak gugur, ketika pertandingan semakin menentukan dan antusiasme suporter dari berbagai negara diperkirakan bertambah. Namun hingga saat ini, harapan hotel dan maskapai penerbangan untuk “ketiban durian runtuh” dari pesta sepak bola dunia tersebut masih belum sepenuhnya terwujud.

“Piala Dunia memang mendatangkan aktivitas ekonomi, tetapi tidak semua sektor langsung merasakan keuntungan besar seperti yang dibayangkan sebelumnya,” ujar sejumlah analis pariwisata yang memantau perkembangan industri selama turnamen berlangsung.

Dengan masih berlangsungnya kompetisi, pelaku usaha berharap sisa pertandingan dapat mendongkrak kunjungan wisatawan dan menggerakkan roda ekonomi di berbagai kota penyelenggara. Namun sejauh ini, euforia sepak bola dunia belum berbanding lurus dengan lonjakan pendapatan yang diharapkan oleh sektor perhotelan dan penerbangan di Amerika Serikat.

Lebih baru Lebih lama