JTP - Jakarta – Kenaikan harga BBM nonsubsidi jenis Pertamax menjadi Rp16.250 per liter memicu kekhawatiran masyarakat, khususnya warga perkotaan seperti Jakarta yang sehari-hari bergantung pada kendaraan pribadi. Lonjakan harga tersebut dinilai membuat biaya operasional kendaraan semakin berat dan mendorong banyak warga beralih menggunakan transportasi umum yang lebih hemat.Sejumlah pekerja di Ibu Kota mengaku mulai mempertimbangkan menggunakan MRT, TransJakarta, LRT, hingga KRL Commuter Line untuk menekan pengeluaran bulanan. Kenaikan harga BBM dinilai berdampak langsung terhadap biaya perjalanan harian, terutama bagi pengguna mobil pribadi dengan mobilitas tinggi.
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menilai kondisi ini justru dapat menjadi momentum positif untuk meningkatkan penggunaan transportasi massal. Pemprov berharap masyarakat mulai beralih ke moda transportasi publik yang dinilai lebih efisien, murah, dan ramah lingkungan.
Penyesuaian harga Pertamax sendiri dilakukan mengikuti fluktuasi harga minyak dunia serta nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat. Selain Pertamax, beberapa jenis BBM nonsubsidi lain juga mengalami kenaikan harga di sejumlah wilayah Indonesia.
Pengamat ekonomi menilai kenaikan harga BBM berpotensi mengubah pola konsumsi masyarakat urban. Selain mulai mengurangi penggunaan kendaraan pribadi, warga diperkirakan akan lebih selektif dalam mengatur pengeluaran rumah tangga agar tetap stabil di tengah naiknya biaya kebutuhan harian.
Sementara itu, pemerintah pusat memastikan kenaikan harga Pertamax tidak akan berdampak signifikan terhadap inflasi nasional karena Pertamax merupakan BBM nonsubsidi yang mayoritas digunakan kalangan tertentu. Meski begitu, tekanan terhadap daya beli masyarakat kelas menengah diprediksi tetap akan terasa dalam beberapa waktu ke depan.