JTP - Tabanan, Bali – Kisah pilu keluarga KD, pria yang tewas setelah diduga menjadi korban pengeroyokan massa akibat dituduh mencuri ayam di Kabupaten Tabanan, Bali, terus menjadi perhatian publik. Di tengah duka yang mendalam, pemerintah memastikan masa depan pendidikan anak-anak korban tetap menjadi tanggung jawab negara.KD diketahui meninggalkan seorang istri dan tiga orang anak. Dua di antaranya masih berstatus pelajar, yakni seorang anak yang duduk di bangku kelas 1 SMA dan seorang lagi di kelas 1 SD. Pemerintah daerah bersama instansi terkait telah melakukan pendataan dan memastikan kedua anak tersebut dapat melanjutkan pendidikan tanpa terkendala biaya.
Langkah tersebut diambil sebagai bentuk perlindungan terhadap hak anak, yang tidak boleh terabaikan meskipun orang tuanya tersandung dugaan tindak pidana. Pemerintah juga menyatakan akan memberikan pendampingan kepada keluarga korban agar tetap memperoleh akses pendidikan dan layanan sosial yang dibutuhkan.
Peristiwa ini sebelumnya menjadi sorotan nasional setelah video putri bungsu KD menangis histeris di samping jenazah sang ayah viral di media sosial. Tayangan tersebut memicu gelombang simpati dari masyarakat dan berbagai pihak yang kemudian memberikan dukungan kepada keluarga korban.
Di sisi lain, aparat kepolisian masih mendalami kasus kematian KD. Polda Bali menyelidiki dugaan pengeroyokan yang menyebabkan korban meninggal dunia serta mengidentifikasi pihak-pihak yang diduga terlibat dalam aksi main hakim sendiri.
Pemerintah dan kepolisian kembali mengingatkan masyarakat agar tidak menyelesaikan persoalan hukum dengan tindakan kekerasan. Setiap dugaan tindak pidana harus diserahkan kepada aparat penegak hukum agar diproses sesuai ketentuan yang berlaku.
Kasus ini menjadi pengingat bahwa penegakan hukum harus dilakukan melalui mekanisme yang sah, sekaligus memastikan anak-anak yang menjadi korban tidak langsung dari sebuah peristiwa tetap memperoleh perlindungan dan masa depan yang layak.