JTP - JOMBANG – Pelaksanaan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) Tahun Ajaran 2026/2027 menghadirkan potret yang kontras di berbagai daerah. Di tengah banyaknya sekolah yang dipenuhi peserta didik baru, sejumlah sekolah di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Jawa Tengah, dan Jawa Timur justru harus menjalani MPLS dengan jumlah siswa yang sangat minim.Kondisi paling menyita perhatian terjadi di Kabupaten Jombang, Jawa Timur. Sebuah sekolah dasar negeri hanya menerima satu siswa baru pada tahun ajaran 2026/2027. Suasana MPLS yang biasanya berlangsung meriah pun berubah menjadi hening karena hanya diikuti seorang peserta didik.
Fenomena serupa juga terjadi di sejumlah sekolah di DIY dan Jawa Tengah. Minimnya jumlah pendaftar diduga dipengaruhi oleh berbagai faktor, mulai dari penurunan angka kelahiran, perpindahan penduduk, hingga tingginya persaingan antar sekolah yang membuat sebagian masyarakat lebih memilih sekolah yang dianggap favorit.
Meski hanya menerima sedikit murid baru, pihak sekolah tetap melaksanakan MPLS sesuai pedoman Kementerian Pendidikan. Kegiatan difokuskan pada pengenalan lingkungan sekolah, pembentukan karakter, pengenalan budaya belajar, serta menciptakan suasana yang aman, nyaman, dan ramah bagi peserta didik.
Di sisi lain, kondisi tersebut berbanding terbalik dengan sejumlah sekolah lain yang justru kebanjiran pendaftar. Hal ini menunjukkan masih adanya ketimpangan distribusi peserta didik antar sekolah di berbagai daerah.
Fenomena sekolah yang kekurangan murid menjadi perhatian pemerintah daerah dan dinas pendidikan. Selain berdampak pada efektivitas proses pembelajaran, kondisi tersebut juga dapat memengaruhi pemerataan tenaga pendidik serta keberlangsungan operasional sekolah apabila tren penurunan jumlah siswa terus berlanjut.
Pemerintah diharapkan dapat melakukan evaluasi terhadap sistem penerimaan murid baru, pemerataan kualitas pendidikan, serta penyusunan kebijakan yang mampu menjaga keberlangsungan sekolah-sekolah dengan jumlah peserta didik yang terus menurun.