Lalu Lintas Kapal di Selat Hormuz Terus Menurun, Kapal Tanker Dilaporkan Kena Proyektil Misterius

 

JTP - Jakarta – Aktivitas pelayaran di Selat Hormuz terus mengalami penurunan di tengah meningkatnya ketegangan keamanan di kawasan Timur Tengah. Jalur laut strategis yang menjadi penghubung utama perdagangan minyak dunia itu kini semakin sepi setelah sejumlah insiden yang melibatkan kapal komersial terjadi dalam beberapa hari terakhir.

Berdasarkan data pelacakan kapal yang dikutip Reuters, jumlah kapal komoditas yang melintasi Selat Hormuz turun signifikan. Pada awal pekan ini hanya tercatat empat kapal yang melintas, lebih sedikit dibandingkan tujuh kapal pada hari sebelumnya. Tidak ada kapal tanker minyak berukuran sangat besar (VLCC) maupun kapal pengangkut gas alam cair (LNG) yang tercatat melintasi jalur tersebut.

Situasi semakin memanas setelah badan keamanan maritim Inggris, UK Maritime Trade Operations (UKMTO), menerima laporan bahwa sebuah kapal tanker dihantam proyektil yang belum diketahui asalnya saat berlayar di Selat Hormuz. Insiden tersebut memaksa awak kapal meninggalkan kapal dan menyelamatkan diri menggunakan sekoci. Hingga kini penyebab pasti maupun pihak yang bertanggung jawab atas serangan tersebut masih dalam penyelidikan.

Perusahaan pelayaran Yunani, Dynacom Tankers, juga mengonfirmasi bahwa dua kapal miliknya terkena proyektil tak dikenal di dekat wilayah Oman, sehingga menambah kekhawatiran pelaku industri terhadap keselamatan pelayaran di kawasan tersebut.

Ketegangan di Selat Hormuz dipicu oleh meningkatnya konflik antara Amerika Serikat dan Iran yang turut memengaruhi stabilitas keamanan di kawasan Teluk. Ancaman terhadap jalur pelayaran internasional membuat sejumlah perusahaan pelayaran memilih menunda perjalanan atau mengalihkan rute demi mengurangi risiko.

Selat Hormuz merupakan salah satu jalur pelayaran paling vital di dunia karena menjadi pintu keluar utama ekspor minyak dari negara-negara Teluk. Gangguan di kawasan ini berpotensi memengaruhi rantai pasok energi global serta mendorong kenaikan harga minyak internasional apabila situasi keamanan terus memburuk.

Lebih baru Lebih lama