JTP - Jakarta – Pelaksanaan Latihan Dasar Militer (Latsarmil) bagi peserta Program Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) yang dipersiapkan menjadi manajer Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (Kopdes Merah Putih) menjadi sorotan publik. Hingga akhir Juni 2026, tercatat lima peserta meninggal dunia saat mengikuti rangkaian pelatihan yang digelar Kementerian Pertahanan (Kemhan).Insiden tersebut memunculkan pertanyaan mengenai intensitas latihan, kesiapan sistem pengawasan kesehatan, hingga standar keselamatan yang diterapkan selama pendidikan berlangsung.
Berdasarkan penjelasan Kemhan, Latsarmil merupakan bagian dari pembentukan karakter bagi calon manajer Kopdes Merah Putih dan Kampung Nelayan Merah Putih. Program ini berlangsung selama 45 hari di sejumlah satuan pendidikan TNI dengan materi yang menitikberatkan pada disiplin, kepemimpinan, kerja sama tim, bela negara, serta pembinaan mental dan manajerial, bukan pendidikan untuk membentuk prajurit.
Kemhan menyebut seluruh peserta telah menjalani pemeriksaan kesehatan sebelum mengikuti pelatihan, meliputi pemeriksaan laboratorium, rekam jantung (EKG), rontgen dada, pemeriksaan kehamilan bagi peserta perempuan, kesehatan jiwa, hingga pemeriksaan fisik lainnya. Peserta yang dinyatakan memenuhi syarat kemudian mengikuti pendidikan sesuai kurikulum yang telah ditetapkan.
Meski demikian, dalam kurun waktu 17 hingga 26 Juni 2026, lima peserta dilaporkan meninggal dunia di lokasi pendidikan yang berbeda. Berdasarkan keterangan resmi Kemhan, penyebab kematian masing-masing peserta berbeda, yakni akibat henti jantung (cardiac arrest), heat stroke, tuberkulosis (TB) aktif, pneumonia dengan komplikasi medis, serta satu kasus yang diawali keluhan sesak napas dan berakhir dengan henti jantung saat menjalani penanganan di rumah sakit.
Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Pertahanan Mayjen TNI Ketut Gede Wetan Pastia menegaskan setiap peserta yang mengalami gangguan kesehatan telah mendapatkan penanganan sesuai prosedur, baik di fasilitas kesehatan satuan maupun rumah sakit rujukan. Kemhan juga menyampaikan belasungkawa kepada seluruh keluarga korban.
Pasca-insiden tersebut, Kemhan menyatakan telah melakukan evaluasi menyeluruh terhadap pelaksanaan Latsarmil. Langkah yang ditempuh meliputi penguatan profil kesehatan peserta, pemeriksaan berkala bagi peserta yang memiliki faktor risiko, penyesuaian intensitas aktivitas fisik sesuai kondisi peserta, serta memperkuat pengawasan tenaga medis di setiap satuan pendidikan.
Di sisi lain, insiden ini mendapat perhatian dari kalangan legislatif. Sejumlah anggota DPR meminta pemerintah melakukan evaluasi menyeluruh terhadap penyelenggaraan Latsarmil untuk memastikan standar keselamatan peserta benar-benar diterapkan tanpa mengurangi tujuan pembentukan karakter yang menjadi dasar program tersebut.
Peristiwa meninggalnya lima peserta menjadi catatan serius dalam pelaksanaan program strategis nasional tersebut. Evaluasi terhadap sistem pengawasan, kesiapan layanan kesehatan, dan mekanisme mitigasi risiko kini menjadi perhatian publik agar tujuan membentuk sumber daya manusia yang berintegritas dapat berjalan seiring dengan perlindungan terhadap keselamatan setiap peserta.