JTP - JAKARTA — Nilai tukar rupiah kembali tertekan tajam dan menyentuh level Rp17.768 per dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Selasa, 26 Mei 2026. Pelemahan ini menempatkan rupiah di salah satu titik terendah dalam sejarah dan memicu kekhawatiran pelaku pasar terhadap stabilitas ekonomi nasional.Tekanan terhadap rupiah dipicu oleh menguatnya dolar AS di pasar global. Mata uang Negeri Paman Sam tersebut kembali menjadi pilihan utama investor sebagai aset aman (safe haven) di tengah meningkatnya ketidakpastian ekonomi dunia dan tensi geopolitik internasional. Akibatnya, arus modal asing keluar dari pasar negara berkembang, termasuk Indonesia, semakin deras.
Dari dalam negeri, permintaan dolar AS juga meningkat signifikan. Kebutuhan pembayaran utang luar negeri, pembagian dividen perusahaan, serta aktivitas musiman seperti persiapan ibadah haji turut memperbesar tekanan terhadap rupiah.
Bank Indonesia (BI) sebelumnya telah merespons kondisi ini dengan menaikkan suku bunga acuan dan melakukan intervensi di pasar valuta asing. Langkah tersebut ditujukan untuk menjaga stabilitas nilai tukar serta meredam gejolak pasar keuangan. Namun, tekanan eksternal yang kuat membuat pergerakan rupiah masih sulit dikendalikan dalam jangka pendek.
Sejumlah analis menilai pelemahan rupiah berpotensi berdampak luas terhadap perekonomian. Harga barang impor bisa meningkat, biaya produksi industri naik, hingga risiko inflasi yang lebih tinggi jika kondisi ini berlanjut.
Pemerintah bersama Bank Indonesia menegaskan akan terus memantau perkembangan pasar dan menyiapkan langkah lanjutan untuk menjaga stabilitas ekonomi. Meski demikian, pelaku pasar diimbau tetap waspada terhadap dinamika global yang masih penuh ketidakpastian.