Pemerintah Siapkan CNG sebagai Alternatif Pengganti LPG 3 Kg



JAKARTA – Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) tengah menyiapkan Compressed Natural Gas (CNG) atau gas alam terkompresi sebagai alternatif pengganti Liquefied Petroleum Gas (LPG) ukuran 3 kg.


Rencananya, tabung CNG yang disiapkan akan memiliki ukuran yang sama dengan tabung LPG 3 kg yang beredar saat ini. Saat ini pemerintah masih mematangkan persiapan program tersebut.


Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM, Laode Sulaeman, menjelaskan pada tahap awal pemerintah berencana mendatangkan tabung gas khusus tersebut melalui skema impor dari China. Alasannya, karena keterbatasan penguasaan teknologi produksi tabung berteknologi tinggi di dalam negeri.


Ia menambahkan, rencana impor ini bersifat sementara sebagai bagian dari perintisan proyek, sebelum nantinya diproduksi secara massal dan mandiri di Indonesia.


Ini beda *CNG* dan *LPG 3 kg* yang paling ngena buat pemakaian rumah tangga:


1. Apa isinya

CNG: Compressed Natural Gas. Isinya gas alam, 90%+ metana. Gas alam yang dikompresi tekanan tinggi 200-250 bar biar muat di tabung kecil.

LPG: Liquefied Petroleum Gas. Campuran propana dan butana yang dicairkan dengan tekanan rendah. Yang 3 kg ini yang biasa dipakai buat masak.


2. Sifat fisik & keamanan

CNG: Lebih ringan dari udara. Kalau bocor, gasnya langsung naik ke atas dan menguap. Risikonya kebakaran di ruang terbuka lebih kecil.

LPG: Lebih berat dari udara. Kalau bocor, gasnya ngendap di lantai. Ini yang bikin risiko kebakaran/ledakan lebih tinggi kalau nggak ada ventilasi.


3. Tabung & distribusi

CNG: Butuh tabung baja khusus yang tebal karena tekanan tinggi. Ukurannya rencana dibuat sama kayak LPG 3 kg, tapi bobot tabungnya lebih berat. SPBU gas dan jaringan distribusinya masih sedikit di Indonesia.

LPG 3 kg: Tabung tipis, ringan, jaringan agen sudah sampai ke warung-warung. Makanya gampang banget didapat.


4. Harga & ketersediaan

CNG: Kalau produksinya sudah mandiri di Indonesia, potensi harganya lebih stabil dan murah karena sumber gas alam kita banyak. Tapi sekarang masih rencana impor tabung dari China dulu.

LPG 3 kg: 70% kebutuhan masih impor, jadi harga subsidi kena beban APBN besar dan dipengaruhi kurs dollar.


5. Efisiensi buat masak

CNG: Nilai kalornya sedikit lebih rendah per volume, tapi pembakarannya lebih bersih. Nggak ada jelaga, kompor lebih awet.

LPG: Nilai kalor lebih tinggi, api lebih panas. Makanya sekarang jadi standar buat masak cepat.


Intinya: 

Pemerintah mau coba geser ke CNG biar subsidi nggak habis buat impor LPG, dan lebih ramah lingkungan. Tapi tantangannya ada di infrastruktur dan kebiasaan masyarakat. 



Lebih baru Lebih lama