Jurnal TNI Polri — Dominasi dolar Amerika Serikat (AS) dalam perdagangan global perlahan mulai terkikis. Negara-negara yang tergabung dalam aliansi BRICS (Brasil, Rusia, India, China, dan Afrika Selatan) dilaporkan telah menggunakan mata uang lokal dalam sekitar 60 persen transaksi perdagangan internal mereka, menggantikan peran dolar AS.
Langkah ini menjadi bagian dari upaya bersama BRICS untuk mengurangi ketergantungan pada dolar AS serta memperkuat stabilitas ekonomi masing-masing negara anggota. Sejumlah bank dan otoritas keuangan di negara BRICS menyebut penggunaan mata uang lokal terbukti lebih efisien, mengurangi risiko nilai tukar, dan meminimalkan dampak tekanan geopolitik global.
China dan Rusia menjadi contoh paling menonjol dalam tren ini. Mayoritas transaksi perdagangan kedua negara, termasuk sektor energi dan komoditas strategis, kini diselesaikan menggunakan yuan dan rubel. India juga semakin aktif menggunakan rupee dalam perdagangan bilateral, khususnya dengan Rusia dan beberapa mitra Asia.
Para analis menilai fenomena ini sebagai bagian dari tren global dedolarisasi, yaitu upaya negara-negara berkembang dan ekonomi besar dunia untuk mengurangi dominasi dolar dalam sistem keuangan internasional. Selain faktor ekonomi, langkah tersebut juga dipengaruhi oleh pengalaman sejumlah negara yang terdampak sanksi ekonomi dan pembatasan sistem pembayaran internasional berbasis dolar.
Meski demikian, para ekonom menegaskan bahwa dolar AS belum sepenuhnya kehilangan perannya sebagai mata uang cadangan utama dunia. Namun, jika tren penggunaan mata uang lokal di BRICS terus meningkat dan diikuti negara lain, posisi dolar diperkirakan akan menghadapi tantangan serius dalam jangka panjang.
Aliansi BRICS sendiri terus mendorong kerja sama keuangan yang lebih erat, termasuk pengembangan sistem pembayaran lintas negara dan peningkatan peran bank pembangunan BRICS. Langkah-langkah ini diyakini akan mempercepat pergeseran menuju tatanan keuangan global yang lebih multipolar.
