Dilema Negara di Tengah Tekanan Global: Tambah Utang atau Ulangi Luka 1998?

 

Jakarta – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa melontarkan pernyataan yang menggugah sekaligus mengundang perhatian publik: “Tambah utang atau krisis seperti 1998, pilih mana?”

Pernyataan tersebut disampaikan dalam forum ekonomi sebagai gambaran realistis atas pilihan kebijakan fiskal yang dihadapi pemerintah di tengah ketidakpastian ekonomi global.

Menurut Purbaya, dalam situasi tekanan ekonomi, pemerintah harus memastikan stabilitas tetap terjaga. Salah satu instrumen yang bisa digunakan adalah penambahan utang secara terukur untuk membiayai belanja negara, menjaga daya beli masyarakat, serta mencegah perlambatan ekonomi yang lebih dalam.

Pelajaran Pahit Krisis 1998

Indonesia memiliki pengalaman pahit saat krisis moneter 1998. Nilai tukar rupiah yang sebelumnya sekitar Rp2.500 per dolar AS sempat terjun bebas hingga menembus Rp15.000 per dolar AS. Inflasi melonjak tinggi, pertumbuhan ekonomi terkontraksi hingga minus 13 persen, dan jutaan masyarakat kehilangan pekerjaan.

Krisis tersebut tak hanya mengguncang sektor ekonomi, tetapi juga berdampak luas terhadap stabilitas sosial dan politik nasional. Pengalaman itu menjadi pengingat bahwa guncangan ekonomi tanpa bantalan fiskal bisa berujung sistemik.

Utang dalam Batas Aman

Secara data, rasio utang pemerintah Indonesia terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) masih berada di bawah batas maksimal 60 persen sesuai Undang-Undang Keuangan Negara. Pemerintah juga menegaskan komitmen menjaga defisit anggaran agar tetap terkendali.

Kementerian Keuangan menyebut pengelolaan utang dilakukan dengan prinsip kehati-hatian, memperhatikan kemampuan bayar, struktur jatuh tempo, serta efisiensi biaya bunga.

Komunikasi Risiko, Bukan Ancaman

Sejumlah ekonom menilai pernyataan Menkeu merupakan bentuk komunikasi risiko kepada publik. Artinya, pemerintah ingin menegaskan bahwa kebijakan fiskal harus realistis menghadapi tekanan global, tanpa mengabaikan disiplin anggaran.

Namun, pengamat juga mengingatkan pentingnya transparansi penggunaan utang agar benar-benar produktif dan tidak membebani generasi mendatang.

Lebih baru Lebih lama